Posted by: TandaMata BDG | 4 March, 2008

Representasi Simbol Agama dan Keberagamaan di Layar Kaca

LATAR BELAKANG

Perubahan budaya masyarakat lisan ke budaya baca-tulis, tak ditolak mendatangkan banyak guna. Pemikiran-pemikiran besar dan berbagai penemuan penting lahir pada era ini. Namun tatkala tele­visi hadir dan mengembangkan budaya pandang dengar, antara manfaat dan mudarat menjadi topik diskusi yang tidak ada habisnya.

Era budaya pasca baca-tulis sebelum budaya televisi sebenar­nya sudah diawali dari penemuan fotografi yang berlanjut dengan penemuan “gambar bergerak” (film movie). Namun keduanya tidak pernah mendapat tempat se-“penting” televisi.

Televisi begitu dekat dengan keseharian kita. Menjadi bagian yang sulit terpisahkan dari hidup kita. Ia menjadi bagian dari anggota keluarga kita. Tempat kita berbagi. Sekaligus mengubah pemahaman kita tentang realitas dunia.

Mengudaranya  stasiun  tv swasta merupakan  topik  paling  hangat  dibicarakan  di  negeri ini. Hal ini dapat  dimengerti  mengingat riwayat  pertelevisian  di Indonesia selama 15  tahun  didominasi oleh siaran tunggal pemerintah.

Raksi masyarakat terbagi dalam 4 jenis:

  1. pembahasan mengenai potensi ekonomi
  2. kekuatan untuk memegang kekuasaan mendefinisikan apa dan siapa yang penting untuk diketahui (berita), apa yang benar (pembentukan opini), apa yang dianggap baik dan buruk (pembentukan nilai-nilai). Singkatnya potensi televisi sebagai sebuah tirani baru.
  3. berpusat pada muatan sosiologis pesan-pesan yang ditayangkan televisi; dampak negatif siaran pada pemirsa muda, bagaimana kekerasan mengasah keberingasan dan kebengalan anak-anak, dan bagaimana waktu belajar maupun proses sosialisasi mereka terimbas oleh jadual tayangan televisi
  4. pembahasan dan penerapan gagasan mengenai potensi media penyebaran pengetahuan dan penanaman moral.

Yang disebut terakhir kemudian melahirkan beragam gagasan penyusunan dan penyuguhan program siaran berbau mendidik dan bernafaskan keagamaan. Berangkat dari titik inilah pangkal masalah dimulai . Telah terjadi pemaksaan substansi pada media televisi yang sesungguhnya memiliki format dengan peruntukan yang berbeda Teknologi tidaklah  netral, tetapi dilengkapi dengan program transformasi  budaya yang tidak kita sadari.

Benarkah format media massa televisi yang cukup dominan dalam  masyarakat kita cukup tepat untuk dimuati substansi yang bernafaskan keagamaan? Kita akan mulai mempertanyakan bagaimana opini kita dibentuk oleh bukan saja substansi tapi juga oleh format suatu medium.

Format Media Televisi : Hiburan!

Plato 2300 thl berargumen yang berfokus pada format konversasi antara manusia: “cara yang harus kita pakai untuk mengadakan konversasi tersebut akan sangat menentukan gagasan macam apa yang dapat kita kemukakan dengan mudah”. Dan gagasan apa saja yang dapat dengan mudah dikemukakan serta merta menjadi substansi penting suatu peradaban.

Istilah “konversasi” dipakai secara metaforis, untuk tidak hanya menunjuk pada percakapan namun juga pada segala teknik dan teknologi yang memungkinkan umat manusia dari suatu perdaban tertentu untuk bertukar pesan. Dalam pengertian ini, semua kebudayaan adalah suatu konversasi atau yang lebih jelas lagi, suatu kumpulan dari banyak konversasi, diadakan dengan berbagai variasi cara simbolis. Fokus pembahasan adalah bagaimana bentuk diskursus publik mengatur, bahkan mendikte substansi semacam apa yang dapat dilayangkan melalui bentuk-bentuk tersebut.

Kita tak dapat menggunakan asap api untuk membicarakan filsafat. Bentuk konversasi menyeleksi substansinya.

Televisi memberikan konversasi dalam bentuk tayangan visual, bukan ucapannya. Munculnya para manajer citra dalam arena politik serta menurunya para penulis pidato merupakan bukti yang mendukung fakta bahwa televisi menuntut jenis substansi yang berbeda dengan media lainnya. Kita tak dapat membicarakan filsafat politik di televisi. Bentuk konversasinya tidak mendukung substansi semacam itu.

Informasi, substansi yang membentuk “berita hari ini” tidak – dan tidak dapat – terjadi di dunia yang tak menyediakan media untuk mengekspresikannya. Maksudnya, berita semacam kebakaran, perang, pembunuhan, maupun skandal cinta bukannya tidak pernah terjadi di berbagai belahan dunia, namun tanpa teknologi yang memungkinkan berita tersebut dipublikasikan, masyarakat tak dapat menjadikan itu sebagai bagian hidup keseharian mereka. Informasi semacam itu tak dapat menjadi bagian dari substansi suatu kebudayaan. Gagasan ini sepenuhnya diciptakan oleh media yang memungkinkan perpindahan informasi yang telah dilepas dari konteksnya melewati jarak yang luar biasa jauhnya dalam kecepatan yang menakjubkan.

Berita hari ini adalah suatu peristiwa media.  Kita menghadiri berbagai potongan peristiwa dari seluruh penjuru dunia karena kita mempunyai media yang formatnya cocok dengan konversasi terpotong-potong.

Kita tengah berada dalam masa mundurnya zaman tipografi dan munculnya zaman televisi. Perubahan ini telah menggeser substansi makna diskursus publik, karena kedua jenis media yang demikian berbeda tak dapat mengakomodasi gagasan yang sama. Sementara pengaruh media cetak memudar, substansi politik, agama, pendidikan, dan semua yang merupakan urusan khalayak ramai harus berganti serta dilafalkan kembali dalam bentuk yang sesuai dengan format televisi.

Hingga di sini dapat disimpulkan bahwa komunikasi media yang tersedia dalam suatu masyarakat akan merupakan suatu pengaruh yang dominan bagi aktivitas intelektual dan sosial masyarakat tersebut.

Percakapan, tentunya merupakan medium utama yang tak dapat dis­ingkirkan, karena membuat kita manusiawi, dan memberi makna pada kemanusiaan itu sendiri.

Kita semua cukup menguasai bahasa untuk dapat memahami bahwa variasi yang dapat disebut “pandangan atas  dunia”. Bagaimana suatu bangsa berpikir mengenai ruang dan waktu serta tentang hal dan proses tertentu, akan sangat dipengaruhi oleh tatabahasa dari bahasa yang mereka gunakan.

Karena kebudayaan yang terlahir dari percakapan senantiasa dilahirkan kembali melalui tiap medium komunikasi dari lukisan hingga hiroglif sampai alfabet ke televisi. Tiap medium seperti halnya bahasa, memungkinkan tercapainya suatu jenis diskurusus tertentu dengan memberikan orientasi baru dalam berpikir atau dalam mengekspresikan sesuatu, untuk mengasah kepekaan. Hal ini tentunya merupakan maksud Mc Luhan dalam merumuskan frasa  “the medium is the message”

Alfabet memperkenalkan suatu bentuk konversasi baru antar manusia. Hal ini sudah menjadi pengetahuan umum para akdemisi. Namun untuk mengetahui isi ucapan seseorang dan tidak hanya untuk dapat mendengarnya, bukanlah konsep yang remeh.

Penulisan fonetis telah menciptakan konsepsi baru mengenai pengetahuan, seperti halnya suatu kesadaran inteligensia baru.

Plato, menyadari sejak awal ketika teks tertulis sedang dikembangkan: “Tak ada orang yang terpelajar”  tulisnya dalam surat Ketujuh, “Yang mau mengekspresikan pandangan filsafatnya dalam bahasa, terutama bahasa yang tak dapat dirubah, seperti bahasa tertulis

Filsafat tak dapat diadakan tanpa kritisisme, dan penulisan memungkinkan suatu konsep diteliti secara mendalam. Penulisan membekukan pembicaraan dan memunculkan para ahli tata bahasa, ahli ilmu logika, ahli ilmu retorika, ahli sejarah, maupun ilmuwan – semua yang harus menguasai bahasa untuk dapat mengetahui maknanya letak kelemahannya, dan arah yang akan diambilnya

Tulisan akan membawa revolusi persepsi: pergeseran dari telinga ke mata sebagai organ pengolah bahasa.

Kata-kata yang tertulis sangat besar kekuasaannya, lebih dari sekedar mengingat:  tulisan menciptakan kembali masa lalu di masa kini, dan memberi kita bukan hanya hal-hal untuk diingat, tapi juga halusinasi intens yang terkumpul. Kita mungkin tidak melihat suatu yang mengagumkan dari tulisan, namun bagi bangsa yang oral murni tulisan sungguh sangat menakjubkan. Tulisan adalah konversasi, tidak dengan siapa-siapa, namun dengan semua orang. Pada masa kejayaan dunia cetak diskursus lebih koheren, serius dan rasional, dan di bawah kekuatan televisi, diskursus tersebut menjadi menciut dan absurd

Sering orang menentang produk ‘sampah’ oleh televisi. Boleh jadi sebenarnya bagian terbaik dari televisi ini malah sampahnya. Kita tak dapat mengukur suatu budaya dengan output topik remeh temeh, melainkan dengan apa yang dianggap penting. Inilah masalah kita; televisi yang biasanya menayangkan hal-hal sepele, akan menjadi berbahaya bila muncul sebagai pembawa konversasi budaya yang penting. Ironisnya, hal inilah justru yang dituntut oleh para intelektual dan para kritisi televisi, karena, seperti dunia cetak televisi sebenarnya tak kurang dari filosofi retoris.

Televisi sebagai teknologi akan mempengaruhi cara berpikir kita,  serta sistem yang kita pakai dalam mencari kebenaran.

Kita hidup dalam perbenturan antara budaya lisan, budaya tulisan dan budaya medium elektronik, padahal perilaku dan gaya hidup yang dianut suatu peradaban tak dapat lepas dari bias medium massa yang dominan dalam peradaban tersebut.

Sifat menghibur medium televisi yang sering kita ingkari dengan menyebutnya sebagai media informasi dan pengetahuan, padahal justru format hiburanlah yang menjadi bentuk dasar tampilan siaran. Format hiburan ini begitu pervasif merasuki tiap sisi kehidupan kita, mempengaruhi diskursus publik kita; yang pada akhirnya membawa pendangkalan di berbagai sudut kehidupan kita.

Teknologi tidaklah  netral, tetapi dilengkapi dengan program transformasi  budaya yang tidak kita sadari. Opini kita dibentuk oleh bukan saja substansi tapi juga oleh format suatu medium.

Televisi menterjemahkan semua tema diskursus ke format menghibur, bahkan untuk  hal yang memerlukan pembahasan mendalam seperti diskursus politik, pengetahuan dan keagamaan.

Format acara televisi yang serba terfragmentasi mencerminkan sifat mediumnya, yang pada kahirnya akan mempengaruhi sifat para pemirsanya. Berbagai format berita, misalnya, yang  semula dipandang sebagai pembebasan masyarakat dari format resmi mungkin akan menjadi tiran yanglebih modern.

Ada kesadaran baru bahwa informasi yang sedemikian banyaknya itu selain membongkar banyak skandal juga membawa distorsi,dan pada akhirnya menghasilkan bukan saja misinformasi (informasi yang salah), melainkan disinformasi(informasi yang menyesatkan). Pembatasan terhadap kebebasan pers pernah jadi masalah, tetapi kebebasan yang tak terbatas menjadi lebih parah, sehingga sepotong berita di masa keterbukaan akan menjadi sekilas kerjapan yang kemudian tenggelam dalam ribuan berita lain yang mengalir tanpa henti di layar televisi. Ternyata kita tidak dapat memakai bahkan tak dapat berbuat sesuatupun atas semua berita yang kita saksikan.

Yang dianggap masalah di sini bukanlah televisi yang menjanjikan topik hiburan tetapi bahwa semua topik disjikan secara menghibur, sehingga terjadi pemaksaan format hiburan ini terhadap semua jenis diskursus publik bahkan yang memerlukan perenungan seperti politik, pendidikan dan keagamaan.

Orwell memperihatinkan pelarangan buku. Huxley memprihatinkan lenyapnya alasan  untuk melarang buku, karena minat baca telah punah. Orwell mencemaskan adanya pihak yang ingin menjauhkan kita dari informasi, sementara Huxley mengkhawatirkan mereka yang menjejali kita dengan begitu banyak informasi sampai kita menjadi pasif dan egois. Orwell mengkhawatirkan disembunyikannya kebenaran dari kita, Huxley mengkhawatirkan hilangnya kebenaran di dalam lautan informasi yang tidak relevan. Orwell mencemaskan datangnya masa dimana kita menjadi masyarakat yang terbelenggu. Huxley mencemaskan kemungkinan kita menjadi masyarakat yang remeh temeh. Orwell cemas akan kehancuran kita yang disebabkan oleh hal-hal yang kita benci. Huxley sebaliknya cemas akan  kehancuran kita yang disebabkan oleh hal-hal yang kita sukai (Postman 1997: 28)

Representasi vs Refleksi Keagamaan di televisi 

Salah satu fungsi televisi memang untuk menghibur, namun ketika meminjam spirit keagamaan, maka televisi mengalami disfungsi yang lain. Televisi terjebak untuk tidak menjalankan peran merefleksikan realitas, melainkan merepresentasikan realitas. Meski televisi bukan satu-satunya media massa yang bermain-main dalam ranah representasi realitas, namun televisilah yang paling kasat mata menunjukkan kemampuannya merepresentasikan realitas itu.

Permainan yang berlangsung antara kutub merefleksikan dan kutub merepresentasikan realitas itu, dengan mudah bisa dilihat dalam berbagai tayangan televisi. Sebut saja ketika memasuki bulan ramadhan, berbagai program yang berlabelkan “spirit ramadhan” digelar.Ritual tahunan umat Islam itu tidak direfleksikan stasiun-stasiun televisi kita, melainkan direpresentasikan dengan simbol simbol kasat mata yang menunjukkan citra keislaman. Karena hanya merepresentasikan realitas, maka media merasa tidak berkewajiban untuk menunjukkan bahwa beragama bukan cuma tampilan fisik atau meng-konsumsi simbol-simbol yang dekat dengan citra religius. Beragama tidak perlu kesatuan antara kata dan perbuatan. Beragama tidak menuntut bahwa iman itu harus diwujudkan dalam kenyataan. Malah televisi “mendakwahkan” apa yang mesti ditampilkan di atas layar gelas bisa, boleh, atau bahkan harus berbeda dengan apa yang ditampilkan di pentas sosial. Dalam berbagai program ramadhan para artis mengenakan busana yang menutup aurat-nya, namun bisa tampil sama sekali lain dalam kesempatan yang berbeda.

Bagi televisi, simbol-simbol keagamaan saja sudah cukup untuk menunjukkan suasana keberagamaan. Karena memang merepresentasikan simbol agama jauh lebih mudah dan memberi manfaat secara komersial bagi media dibandingkan dengan merefleksikan keberagamaan.

Karena itu, media massa pun menjadi tidak merasa “bersalah” bila merepresentasikan sesuatu yang bertentangan dengan ajaran agama. Con-toh paling gampang adalah soal bergunjing (ghibah). Islam mengajarkan, ghibah merupakan tindakan yang sangat tidak terpuji dan harus dihindari. Namun stasiun-stasiun televisi menjual tayangan infotainment yang nota-bene penuh dengan ghibah, pun di saat bulan ramadan, dengan dalih merupakan tayangan yang disukai pemirsa dan tentu saja menarik banyak iklan.

Demikian juga halnya tayangan yang dinamakan reality show yang di negara seliberal Amerika Serikat pun dipertanyakan dari sisi etisnya, di sini menjamur luar biasa. Semua stasiun televisi berlomba menayangkan tayangan reality show itu termasuk reality show soal alam gaib dan mempermainkan rakyat kecil. Penderitaan menjadi sumber hiburan, kekonyolan dianggap sebagai sesuatu yang wajar, dan menjadi bahan tertawaan adalah sesuatu yang menyenangkan

Kaum muslimin Indonesia selama selama ini – hidup menonton televisi dengan isi yang kurang lebih seperti itu. Ajaran agama berjalan secara terpisah dengan ajaran media massa. Agama dan keberagamaan dipandang menjadi dua hal yang berbeda dalam media. Keberagamaan dipandang tidak perlu direpresentasikan, sedangkan agama setidaknya melalui simbol-simbolnya direpresentasikan habis-habisan untuk menunjukkan “religiusitas” media.

Televisi yang bekerja dengan logika kapitalistik memang melahirkan banyak paradoks bahkan absurditas. Televisi hanya menawarkan kesalehan manakala kesalehan itu memberi manfaat ekonomis baginya. Agama meng-ajarkan kebenaran, namun media sendiri memiliki “kebenarannya”, yang acuannya lagi-lagi manfaat ekonomis. Maka munculah fenomena seperti tayangan televisi yang menampilkan seorang ulama yang mengajarkan perlunya mengesakan Tuhan sesuai dengan prinsip tauhid, namun di waktu lain mengajarkan kemusyrikan dan bahkan televisi sendiri bekerja dengan memuja berhala seperti peringkat rating. Atau dalam kesempatan lain seorang dai ditampilkan untuk mengajak pemirsa menjaga syahwat, namun dalam banyak program pameran kecabulan dipertontonkan, termasuk selama bulan ramadan.

Bila pada masa awal masih sering terdengar bentuk-bentuk “perlawanan” umat terhadap isi media massa yang dipandang tak sejalan dengan ajaran Islam, kini suara tersebut makin melemah. Namun ini bukan berarti apa yang ditampilkan media sudah bisa diterima. Melainkan bisa saja menunjukkan betapa sia-sianya melawan kekuatan hegemonik media. Perhatikan saja, bagaimana kontroversi soal goyang Inul antara Rhoma Irama dan lawan-lawannya. Lalu kemudian siapa menjadi “bintang”?

Media massa memang akan selalu membutuhkan bintang, dan media massa hidup dengan fenomena bintang itu. Bintang-bintang itu tidak muncul dengan sendirinya, melainkan dilahirkan. Kontes-kontes sebagai proses pelahiran bintang diselenggarakan berbagai stasiun televisi. Bintang bintang ciptaan media itu, pada gilirannya akan dimanfaatkan oleh media untuk men-jaga “kebesaran media” tersebut sekaligus menjaga relasi dominatif antara media dengan khalayaknya. Bahkan bila perlu media menciptakan bintang rohaniawan atau agamawan untuk menopang keberlanjutan industri hiburan yang bernuansakan agama, setidaknya secara simbolik. Ulama diposisikan sebagai bintang, bukan sebagai warotsatul anbiyaa (pewaris para nabi).

Apa yang bisa dilakukan?

Tatkala tingkat literasi media masyarakat Indonesia masih belum begitu baik, maka representasi media televisi  pun akan cenderung dipandang se-bagai kebenaran. Tak ada lagi tersedia ruang untuk kritis membaca teks-teks representasi yang disampaikan media massa. Proses komunikasi yang dominatif makin menyuburkan peluang untuk memandang benar apa pun yang ditampilkan media. Bahkan khalayak pun cenderung berpandangan televisi sudah melakukan seleksi atas siapa yang akan ditampilkan. Mereka lupa bahwa seleksi yang dilakukan bukan seleksi yang kriterianya jelas, melainkan semata dengan menggunakan kriteria kepentingan ekonomi dan politik media massa.

Penyadaran atas apa yang dilakukan dalam operasi media massa televisi merupakan keharusan yang tak bisa ditawar lagi. Bentuknya berupa kegiatan pendidikan literasi media secara konkret. Kegiatan penyadaran melalui praktik aksi-refleksi seperti yang dikemukakan di atas, merupakan salah satu rumusan dasar untuk melahirkan daya kritis khalayak media. Daya kritis tersebut akan diperlukan untuk membangkitkan keberdayaan khalayak untuk tidak terjebak dalam permainan representasi televisi.

Khalayak yang berdaya itu pada gilirannya akan mampu mengubah atau memperbaiki praktik representasi yang dilakukan televisi. Katakanlah, Islam itu bukan sekadar mengganti lagu pop dengan nasyid, menggunakan jilbab dan baju gamis, mengenakan baju koko dan berpeci. Islam juga bukan sekadar menabung di bank syariah dan mengasuransikan diri di asuransi takaful. Karena hal itu hanyalah bagian kecil saja dari keberagamaan. Islam sungguh-sungguh merupakan ajaran yang mendorong pemeluknya untuk menjadi manusia yang bermanfaat bagi sesamanya dan lingkungannya sesuai dengan semangat rahmatan lil ‘alamin.

Televisi sangat jarang menyajikan multidimensionalitas Islam. Bahkan dalam ruang dan waktu yang sempit yang disediakan televisi, seluruh aspek Islam tidak tampil sepenuhnya. Bahkan bila dipersentasekan, antara penguatan dan penggerogotan iman, masih lebih besar proses penggerogotan iman yang dilakukan media massa. Literasi media diperlukan agar dimensi-dimensi keagamaan bisa tampil secara lebih baik.

Literasi media bisa mendorong televisi untuk bekerja berdasarkan ke-rangka kerja khalayaknya, bukan kerangka kerja media yang kerap memper-dayakan, bukan memberdayakan, khalayaknya. Tanpa literasi media, bahkan bisa saja kebenaran yang ditawarkan televisi itu bisa mengubah kebe-naran yang ditawarkan agama sendiri dengan cara yang demikian subtil, sehingga banyak orang tidak merasakan adanya perubahan.

Pengembangan daya kritis sendiri bukan hal yang sulit. Bila setiap orang tidak menerima begitu saja apa yang direpresentasikan televisi, misalnya dengan menyadari bahwa televisi itu bukan merefleksikan, melainkan merepresentasikan realitas, maka benih-benih menjadi khalayak media televisi yang kritis sudah mulai disemai. Apalagi bila kemudian dilanjutkan dengan mempertanyakan atas kepentingan apa dan siapa televisi merepresentasikan hal tersebut. Lalu dilanjutkan dengan bertanya apa yang sebaiknya dilakukan.

Literasi media akan membukakan mata khalayak televisi tidaklah menyampaikan segala sesuatu apa adanya, melainkan hasil olahan dengan berpijak pada kaidah-kaidah yang berlaku dalam dunia media massa. Televisi melakukan mediasi atas realitas, sehingga realitas bukan saja lebih menarik tapi juga lebih indah atau lebih dramatis dari realitas yang sesungguhnya. Itulah representasi yang dilakukan televisi, yang prosesnya sangat banyak dipengaruhi kepentingan kekuasaan politik atau ekonomi.

Kesimpulan dan Arahan

Teknologi tidaklah  netral, tetapi dilengkapi dengan program transformasi  budaya yang tidak kita sadari. Opini kita dibentuk oleh bukan saja substansi tapi juga oleh format suatu medium. Televisi menterjemahkan semua tema diskursus ke format menghibur, bahkan untuk  hal yang memerlukan pembahasan mendalam seperti diskursus politik, pengetahuan dan keagamaan.

Bagi televisi, simbol-simbol keagamaan saja sudah cukup untuk menunjukkan suasana keberagamaan. Karena memang merepresentasikan simbol agama jauh lebih mudah dan memberi manfaat secara komersial bagi media dibandingkan dengan merefleksikan keberagamaan. Keberagamaan dipandang tidak perlu direpresentasikan, sedangkan simbol-simbol agama direpresentasikan habis-habisan untuk menunjukkan “religiusitas” media.

Televisi yang bekerja dengan logika kapitalistik memang melahirkan banyak paradoks bahkan absurditas. Televisi hanya menawarkan kesalehan manakala kesalehan itu memberi manfaat ekonomis baginya.

Televisi juga bekerja dengan fenomena bintang. Bintang bintang pada gilirannya akan dimanfaatkan oleh media untuk men-jaga “kebesaran media” tersebut sekaligus menjaga relasi dominatif antara media dengan khalayaknya. Bahkan bila perlu media menciptakan bintang rohaniawan atau agamawan untuk menopang keberlanjutan industri hiburan yang bernuansakan agama, setidaknya secara simbolik.

Menempatkan televisi sebagai media pendidikan dan peningkatan kualitas moral dalam bentuk siaran keagamaan sebaiknya dipandang hanya sebagai niatan agung namun tidak pada tempatnya

Literasi media diperlukan agar dimensi-dimensi keagamaan bisa tampil secara lebih baik. Literasi media bisa mendorong televisi untuk bekerja berdasarkan kerangka kerja khalayaknya, bukan kerangka kerja media yang kerap memperdayakan, bukan memberdayakan, khalayaknya.


Responses

  1. Halo bos, kuma ha damang. Konfirm blogna kang Haji Dede Mulkan. Belum di link ke saya…he hee
    Okay lah TV dan refleksi keagamaanya. Coba dikupas lagi jelang ramadhan, seru…cuma bikin ketawa wungkul…boro-boro mengajak refleksi dan i’tikaf


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: